Modernisme dan Postmodernisme : Pengaruhnya Terhadap Dunia Desain

Standard

Modernisme Dalam Perspektif Desain

Pada abad XI muncul sebuah istilah baru dalam bahasa latin yaitu opus modernum. Istilah  ini dimunculkan oleh seorang kepala biarawan, Suger, yang merekonstruksi Basillika St. Denis di Paris. Gagasan arsitekturalnya ini menghasilkan sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya. Sesuatu yang bukan Yunani, bukan Romawi, dan bukan Romanesque. Sehingga Suger kemudian menyebutnya opus modernum. Sebuah karya modern. (Richard Appignanesi, 1997, hal. 6)

Ketika ada yang menanyakan sejak kapan kita modern, maka sejak itulah kita modern. Secara harfiah, modern berasal dari kata latin modo, yang berarti “barusan”. Modern akan menghasilkan suatu  paham modernisme. Lahirnya paham modernisme dipengaruhi oleh faktor :

  • Ilmu Pengetahuan Sosial
  • Teknologi
  • Organisasi Kerja

Pada perspektif desain, modernisme memiliki tanda – tanda antara lain :

  1. Bersifat Emansipatoris

Modernisme mewadahi semua art movement dalam prinsip kesetaraan

  1. Rasional

Modernisme didasrkan pada fakta – fakta dan prinsip yang rasional. Mengesampingkan pengalaman subjektif yang variatif

  1. Absolut dalam Ide

Penggunaan material yang tidak lazim ( baru )

  1. Bersifat Linear

Berkembang mencari bentuk dan karakter baru

  1. Reaktif terhadap sains dan teknologi

Mengikuti perkembangan sains dan teknologi dan merupakan bagian dari produksi dan industralisasi. Modern juga sangat mendewakan sains

  1. Sangat kaku, tidak ada ekspresi diri

 Bagan 1. Kedudukan Desain Modern

Jika kita lihat dari segi produktif infrastruktural, modernisme dimulai pada tahun 1890-an dan 1900-an. Ketika itulah terjadi inovasi teknologi massal, gelombang pasang kedua dari revolusi industri yang dimulai hampir seabad yang (Richard Appignanesi, 1997, hal. 11). Pada masa itu muncul teknologi baru, salah satunya adalah pembakaran integral dan mesin diesel, generator serta turbin uap elektrik. Selain itu periklan juga semakin mencuat ke permukaan dan adanya sirkulasi massal surat kabar serta penemuan gramofon (1877).

Paham modern sangat besar pengaruhnya pada perkembangan dan style desain di dunia. Sebagai contoh, kita melihat modernisme dari sudut pandang desain interior. Dalam buku Modern Interior Design (Jie, 2006), ia mendeskripsikan modernisme melalui karya – karyanya, yaitu :

  • Modern Urban

Konsep moden yang mengutamakan fungsi dan kepraktisan. Kesederhanaan diaplikasikan untuk memaksimalkan kualitas dari ruangan.

  • Modern Oriental

Konsep ini merupakan perubahan nilai – nilai oriental yang kental menjadi tradisional. Pada saat sekarang ini justru element tradisional menjadi sentuhan modern.

  • Modern Pop

Konsep ini menciptakan berbagai produk dari bentuk – bentuk dasar seperti lingkaran, persegi, dan segitiga yang ringan namun tetap mencerminkan kesan sensual serta didominasi oleh warna – warna cerah.

  • Modern Minimalist

Banyak bentuk filosofi yang berkiblat pada gaya hidup yang serba murni. Berakar jauh ke gerakan Bauhauss yang berprinsip pada geometris, presisi, dan fungsi. Minimalis secara tidak sadar telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Konsep ini berfokus essence dan kualitas dari ruangan.

  • Modern Natural

Konsep ini ditekankan pada penggunaan material seperti kayu, kulit, rotan, batu dan bahan – bahan lain yang bersifat alami

  • Modern Kontemporer

Mengutamakan clean design dan minim furnishing.

Modern sangat berhubungan dengan segala hal yang berbau massal. Melalui proses mekanisasi, modern akan menghasilkan berbagai produk yang akan diproduksi secara massal. Dengan adanya penemuan mesin cetak, maka buku – buku dan kitab suci dicetak secara massal dan didistribusikan secara cepat. Dalam era modern, media juga sangat sangat berkembang pesat akibat dari penemuan mesin cetak. Penyampaian informasi juga lebih cepat dan informatif karena memiliki output yaitu hasil cetakan.

Modern sangat erat kaitannya dengan revolusi industri. Pada masa itu muncul penemuan – penemuan baru seperti mesin cetak dan sebagainya. Hal ini mendorong orang untuk membuka pabrik dan menciptakan industrialisasi. Sehingga akan muncul golongan – golongan di masyarakat seperti golongan pekerja, golongan pemilik pabrik dan sebagainya. Impilikasi lainnya adalah akan timbul golongan kaya dan miskin. Hal ini kemudian berdampak pada produk yang dipakai masyarakat. Contohnya, perbedaan antara piring bangsawan / orang kaya dengan piring rakyat bisasa / golongan pekerja. Pring orang – rang kaya didesain sedemikian rupa dengan tambahan bordir atau ukiran di pinggirnya. Dan ini sangat jauh berbeda dengan apa yang digunakan oleh para pekerja. Ini menimbulkan stereotype bahwa seni dan desain itu hanya milik orang – orang berkelas. Hal ini memunculkan suatu statement bahwa modernism menampilkan suatu desain sebagai suatu industri. Desain merupakan suatu kreasi dari sebuah benda fungsional yang diproduksi secara massal.

Fotografi dan lukisan juga bukan menjadi barang yang eksklusif lagi namun menjadi barang yang populer di masyarakat. Hal ini terjadi karena semuanya kini telah dicetak menggunakan mesin dan dapat diproduksi secara massal. Para pelukis hanya perlu melukis satu kali dan ia dapat memperbanyaknya dengan cara dicetak. Reproduksi massal ini dapat menghapuskan aura dari seni orisinal. Kemungkinan mereproduksi seni orisinal secara mekanis tentunya mempunyai efek yang menghancurkan orisinalitas itu sendiri (Richard Appignanesi, 1997, hal. 18).

Modern juga melahirkan budaya dan seni pop. Pop merupakan kependekan dari populer yang artinya semua orang tahu dan menggemarinya. Menurut sejarah, seni  pop dunia berakar dari gerakan dadaisme di Eropa pada tahun 1916. Gerakan ini merupakan gerakan anti seni yang melakukan pemberontakan terhadap kaidah – kaidah seni yang telah mapan dengan jalan menciptakan lecehan  dan gebrakan baru yang tidak terikat lagi oleh unsur formal yang dragmatis.

Lukisan tidak lagi terikat dengan bingkai dan cat namun dapat menggunakan apa saja. Sebuah patung tidak hanya menampilkan figur – figur tetapi juga barang – barang yang disusun menjadi sebuah patung (Sachari, 1986, hal. 128). Hal ini merupakan titik baru munculnya sebuah paham baru yaitu postmodernisme.

Postmodern, Kritik terhadap Modernisme

Akhir – akhir ini, kita acap kali mendengar kata baru yaitu Postmodernisme. Kebingungan muncul pada kata ini karena adanya kata “pos” yang mendahului kata “modern”. Posmodernisme menyiratkan suatu pengikaran. Ini merupakan tanda bahwa ia bukan modern lagi. Kebingungan lain muncul apakah postmodernisme itu merupakan hasil dari modernitas atau akibat dari modernisme atau bahkan penolakan akan modernisme.

Menurut sejarahnya, Postmodernisme lahir di St. Louis, Missouri, 15 Juli 1972, pukul 3:32 sore. Ketika pertama kali didirikan, proyek rumah Pruitt-Igoe di St. Louis di anggap sebagai lambang arsitektur modern. Yang lebih penting, ia berdiri sebagai gambaran modernisme, yang menggunakan teknologi untuk menciptakan masyarakat utopia demi kesejahteraan manusia. Tetapi para penghuninya menghancurkan bangunan itu dengan sengaja. Pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenovasi bangunan tsb. Akhirnya, setelah menghabiskan jutaan dollar, pemerintah menyerah. Pada sore hari di bulan Juli 1972, bangunan itu diledakkan dengan dinamit. Menurut Charles Jencks, yang dianggap sebagai arsitek postmodern yang paling berpengaruh, peristiwa peledakan ini menandai kematian modernisme dan menandakan kelahiran postmodernisme.

Postmodernisme merupakan pemutusan hubungan total dari segala pola kemodernan. Postmodernism merupakan suatu sikap dimana citra – citra manusia akan kembali kepada dirinya sendiri dan ia bebas bersikap namun harus mempertanggungjawabkan segala yang ia lakukan. Modernisme membentuk masyarakat yang sangat tergantun pada segala hal yang berbau otomatis yang merupakan hasil dari teknologi. Akibatnya modernisme akan menghasilkan masyarakat yang mekanis. Namun seorang postmodernist sangat mandiri.

Salah satu ciri utama postmodern adalah pluralisme. Dalam paham postmodernisme, perbedaan sangat dijunjung tinggi dan persamarataan sangat diharamkan. Karena bagi mereka, postmodernist,  bahwa keseragaman justru akan menghasilkan suatu yang monoton sedangkan hidup dalam perbedaan akan menghasilkan variasi –variasi tersendiri. Selanjutnya postmodern juga melepas estetika, dari persepsi tentang keindahan menuju pada pluralisme makna (Widagdo, 2006, hal. 3 ).

Dalam buku What is Post – Modernism ? (Jencks, 1989) ,Charles mengatakan :

Post-modernisme adalah campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu. PostModernisme adalah kelanjutan dari modernisme, sekaligus melampaui modernisme. Ciri khas karya-karyanya adalah makna ganda,ironi, banyaknya pilihan, konflik, dan terpecahnya berbagai tradisi, karena heterogenitas sangat memadai bagi pluralisme. “

Postmodernisme timbul karena kritik keras, perlawanan kultural serta dampak dari pemikiran – pemikiran modern. Postmodern sangat menentang keras industrialisasi. Karena dalam industrialisasi, segala alat – alat produksi dikuasai dan digunakan hanya untuk memperoleh untung rugi. Selain itu industrialisasi juga menciptakan beberapa golongan yang sangat tidak menguntungkan. Pada akhirnya postmodern akan menghasilkan masyarakat yang kritis pada semua hal.

Postmodern hadir sebagai suatu sikap dimana semua hal tidak memiliki batasan. Tidak adanya pembatas antara hal yang satu dengan yang lain. Dalam konteks seni dan desain, bahwa seni dan desain itu adalah miliki semua orang. Ketika kita keluar dari aturan yang ada dan sedikit ‘memberontak’ maka sikap postmodern sudah ada didalam diri kita. Sebuah perusahaan Shampoo, Dove, berani keluar dari aturan bahwa untuk sebuah iklan shampoo tidak hanya dibintangi oleh perempuan – perempuan berambut panjang saja namun juga yang berambut pendek, tidak harus perempuan muda namun juga ibu – ibu. Mereka meyakini bahwa shampoo adalah milik semua orang dan dapat dipakai oleh siapapun.

Iklan lain yang telah mengadopsi sikap postmodern adalah iklan rokok. Salah satu produsen rokok, A Mild, sering kali memproduksi iklan rokoknya dengan tema – tema yang tidak berhubungan dengan produknya. Malah lebih sarat dengan tema politik dan sosial yang sedang berkembang. Banyak hal yang ada disekitar kita yang tanpa kita sadari merupakan sikap postmo.

Jika kita lihat dari segi arsitektur, Postmodern muncul karena kejenuhan terhadap gerakan arsitektur modern yang terlalu mendewakan fungsi dan efisiensi dalam membangun. Arsitektur postmo bersifat pluralis dan banyak bentuk – bentuk baru sebagai pelopor pembaharuan  untuk mengolah bentuk – bentuk imajinatif ke dalam arsitektur.

Arsitektur postmodern menolak tuntutan modern dimana sebuah bangunan harus mencerminkan suatu kesatuan atau unity dan simetris. Justru sebuah karya postmodern berusaha menunjukkan gaya, bentuk, dan corak yang saling bertentangan. Para arsitek postmodern menganggap jika terlalu fokus pada fungsi (utility), maka karya seni modern itu hanya sebuah bangunan yang hadir tanpa nuansa artistik dan aksentuasi (Gropius, 1970). Postmodern menampilkan desain sebagai sebuah seni yang merupakan apresiasi dari sebuah konsep yang artistik. Arsitektur postmodern akan menghasilkan suatu karya arsitektur yang menciptakan bentuk keragaman dan kekakyaan makna.

Postmodern juga memiliki beberapa ciri – ciri seiring dengan berkembangnya paham postmodernisme yaitu :

  • Ekletisme, adalah pemikiran atau upaya untuk menggabungkan nilai dan unsur lama dengan unsur baru, tradisional dengan lokal
  • Deskontruksi, modernisme percaya pada keteraturan, formalitas yang rasional, maka postmodern menolak semua itu dengan memunculkan konsep deskontruksi. Namun sebagian pemikir postmodern percaya bahwa modernisme dapat diperbaiki sebagian demi sebagian tanpa harus menolak dan menciptakan deskontruksi
  • Modernisme berati bersifat rasional, funsional, sistematis. Postmodern menolaknya karena dianggap menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang penuh dengan perasaan
  • Hiperealitas, hilangnya batas seni dan kehidupan. Banyak karya seni yang ditampilakan di ruang publik, trotoar, tembok jalan, eksperimental seni, konsepsi, instalasi, dll

Postmodern sangat mempengaruhi perkembangan desain grafis. Desain grafis postmodern cenderung berkarakter: menggabungkan nilai dan unsur lama dengan unsur baru, tradisional dengan lokal; memunculkan konsep deskontruksi; menolak rasionalitas, funsionalitas, sistematisasi; menghilangkan batas seni dan kehidupan, contohnya banyak karya yang ditampil akan di ruang publik, trotoar, tembok jalan, dll; lahirnya karya desain yang tidak berpedoman pasa arus utama kesenian dan mengangkat budaya pop dan budaya massa; dan karya desain yang tidak lagi memiliki makna tunggal namun bermakna ganda, parodi dan juga ironi.

Simpulan

                Modernisme hadir sebagai sesuatu yang baru dan fresh dalam dunia desain dengan ide – ide, bentuk dan karakter baru. Revolusi industri menjadi salah satu penanda bagi modernisme untuk tumbuh dan berkembang. Namun dengan segala aturan dan rasionalitas pada modernisme, membuat modern itu sendiri kehilangan jiwa dan sedikit agak kaku.

Maka dari itulah postmodern hasil sebagai sebuah kritik terhadap postmodern yang dianggap terlalu mendewakan fungsi, teknologi serta rasionalitas. Postmodern menjadi sebuah bagi dimana tidak adanya satu pembatas antara satu hal dan sangat menjunjung tinggi pluralism dan serta mengharamkam  kesetaraan.

Pada dasarnya postmodern dan modern hidup berdampingan. Kita juga tidak dapat memisahkan antara modern dan postmodern, karena postmodern hadir sebagai akibat dari adanya modern. Setiap hal memiliki sisi positif dan negatif begitu juga dengan modern dan postmodern. Semua ini kembali kepada diri kita bagaimana harus bersikap dan menyikapi semua pergerakan ini., baik itu design movement, art movement hingga culture movement.

Works Cited

Gropius, W. (1970). Programmes and Manifestos on Twentieth-Century Architecture. (M. Bullock, Trans.) London: Lund Humphries.

Jencks, C. (1989). What is Post-modernism ? New York: St Matin’s Press.

Jie, Y. (2006). Modern Interior Design. Jakarta: Gramedia.

Richard Appignanesi, C. G. (1997). Mengenal Posmodernisme For Beginners. Bandung: Mizan.

Sachari, A. (1986). Desain, Gaya dan Realitas. Indess.

Widagdo. (2006). Estetika Dalam Perjalanan Sejarah: Arti dan Peranannya dalam Desain. JURNAL ILMU DESAIN , I.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s