INDONESIA, AKU INGIN MENGAJAR

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2010-2014, pemerintah telah menetapkan setidaknya 183 kabupaten yang tergolong daerah tertinggal. Ketertinggalan suatau daerah lebih diakibatkan karena letaknya secara geografis relative terpencil dan sulit dijangkau serta jauh di pedalaman.

Daerah pedalaman merupakan suatu bentuk dari ketertinggalan suatu daerah, masyarakat di daerah pedalaman sudah sangat terbiasa dengan kondisi yang serba terbatas. Salah satunya adalah keterbatasan dalam dunia pendidikan. Mulai dari akses pendidikan yang sulit, infrastruktur yang belum memadai seperti ruang kelas, meja serta kursi yang sudah tidak layak pakai, hingga ketersediaan guru dan tenaga pendidik yang masih kurang.

Untuk masalah infrastruktur seperti bangunan rusak, atau peralatan kegiatan belajar seperti kursi, meja, dan papan tulis sudah dapat diatasi oleh pemerintah dengan mengalokasikan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara setiap tahunnya sebanyak 20% yaitu sekitar 286,6 Triliyun pada tahun 2012.

Namun permasalah kekurangan guru dibanyak sekolah di daerah pedalaman masih belum dapat diatasi oleh pemerintah. Prof DR M Furqon Hidayatullah M.Pd mengatakan bahwa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) meluluskan setidaknya dua ratus ribuan calon guru setiap tahunnya. Jumlah tersebut merupakan angka yang sangat besar, namun mengapa masih banyak daerah pedalaman yang kekurangan guru khususnya guru SD. Hal ini dikarenakan penempatan para guru ini di daerah pedalaman dimana listrik dan sinyal telepon kerap kali masih “absen”.

Banyak para lulusan guru dari FKIP tidak ingin ditempatkan di daerah pedalaman. Alhasil, kekurangan guru tidak dapat dihindari. Ini mengakibatkan kualitas pendidikan di daerah pedalaman semakin menurun dan terbelakang. Selain itu distribusi guru yang tidak merata serta rendahnya kualitas para guru merupakan realita pendidikan yang ada di negeri ini.

Maka, pada Juli 2009 tercetuslah sebuah ide untuk mengirimkan anak-anak terbaik negeri ini untuk menjadi guru di pelosok tanah air sebagai usaha untuk mendorong usa mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi siapa yang mau jadi guru SD di pelosok tanah air ? Jika kita tanya kepada para anak muda mengapa mereka tidak mau jadi guru SD, jawabannya karena menjadi guru SD apalagi di pelosok adalah beban seumur hidup. Namun Anies Baswedan, selaku orang yang mencetuskan ide ini , berpikir berbeda. Menjadi guru cukup satu tahun, maka situasinya akan berubah.

Foto-foto diambil dari galery website indonesiamengajar.org

 

Maka dirancanglah sebuah program, mengirimkan anak-anak muda terbaik untuk menjadi guru SD di pelosok-pelosok seluruh Indonesia selama satu tahun. Kenapa SD? Karena SD 66% kekurangan guru. Selain itu program ini juga bertujuan untuk mmebrikan kesempatan kepada mereka untuk tinggal bersama rakyat Indonesia di pelosok tanpa listrik, tanpa sinyal telepon, bahkan tanpa running water. Pengalaman ini akan menempel seumur hidup dalam diri mereka.  Ada dua tujuan: mengisi kekurangan guru dan mempersiapkan Our Future Leaders. Yang diharapkan dari program ini adalah jika kelak mereka jadi pemimpin, mereka adalah anak-anak muda yang memiliki World Class Competence serta Grass Root Understanding.

            Pada bulan Januari 2010, terbentuklah sebuah organisasi bernama Yayasan Indonesia Mengajar. Indonesia Mengajar merupakan sebuah ikhtiar untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat proklamasi kemerdekaan. Indonesia Mengajar mencari anak-anak muda terbaik negeri ini untuk menjadi pengajar mudadi pelosok negeri ini. Harapannya adalah mereka tidak hanya hadir sebagai guru dan pengajar, tetapi kehadirannya menginspirasi serta menjadi role model.

Indonesia Mengajar mengundang 50 anak-anak Indonesia terbaik untuk menjadi guru di pelosok negeri. Angka yang kecil mungkin, tetapi memiliki power yang sangta kuat, daripada banyak tetapi unmanage. Perjalanan dimulai Juni 2010 dengan berkeliling ke 5 kota di Indonesia. Sebelumnya ada criteria yang harus dipenuhi oleh calon pengajar muda. Akademisnya harus baik, memiliki IP>3, memiliki jiwa kepemimpinan, cakap dalam berkomunikasi, memiliki pengalaman berorganisasi, serta tangguh.

Ketika program ini diumumkan, ada 1383 anak Indonesia yang mendaftar. Sebelumnya mereka harus mengisi application form yang cukup panjang dan menulis essay mengapa mereka ini menjadi guru. Semua dari mereka tahu akan ditempatkan di daerah pedalaman dan tetap bersemangat untuk menjadi pengajar muda.

 

Foto-foto diambil dari galery website indonesiamengajar.org

            Setelah proses seleksi, terpilih 51 anak Indonesia terbaik untuk menjadi calon pengajar muda. Beragam latar belakang, mulai dari lulusan fakultas kedokteran, manager Bank Mandiri, manager P&G Singapura dan sebagainya. Mereka adalah sarjana-sarjana terbaik dari berbagai penjuru tanah air. Mereka terpanggil untuk menjadi pengajar muda. Ikut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui langkah nyata di bidang pendidikan. Menjadi pengajar muda bukanlah pengorbanan. Ini adalah kesempatan sekaligus kehormatan besar untuk mengenal bangsa Indonesia secara langsung dan utuh. Selama setahun di daerah penempatan, mereka mengajar, berinteraksi dan membagi inspirasi.

Sebelum diberangkatkan, mereka akan di-training selama 7 minggu dengan dua materi: Kepengajaran dan Kepemimpinan. Mengapa kepemimpinan sangat penting? Jangan dikira berada serahun di daerah pelosok akan disambut secara suka cita seluruhnya tanpa masalah. Setahun mengabdi, para pengaar muda akan menghadapi berbagai masalah dan tantangan. Namun setahun pengabdian itu merupakan leadership training yang sangat berharga.

“YOU ARE ALONE, YOU FACE ALL CHALENGE, AND YOU MUST SOLVE IT THERE”, kata Anies Baswedan ketika sharing tentang Indonesia Menjara di TEDx.

Maka 10 November, mereka diberangkatkan ke polosok tanah air. Founding fathers  Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, mengatakan bahwa kalian (para pengajar muda) memiliki seluruh kesempatan untuk berkarir nyaman di kota-kota besar dengan posisi yang menjanjikan. Namun kalian tinggalkan itu untuk berada di pelosok negeri menjadi seorang guru SD. YOU ARE PEJUANG. Hadirnya kalian menunjukkan bahwa ibu-ibu kita masih melahirkan pejuang.

Program ini bukan hanya soal mensuplai guru, tetapi menebarkan optimism. Para pengajar muda ini hadir disana menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia. Dan sepulang dari sana, mereka mengabarkan bahwa Indonesia memiliki anak-anak yang cerdas dan sangat berpotensi di tempat mereka mengajar.

 

Foto-foto diambil dari galery website indonesiamengajar.org

            “ Mendidik adalah tugas setiap orang terdidik. Ketika seseorang mendapatkan suatu ilmu, maka sesungguhnya ia langsung mengemban tugas menyebarkan ilmu itu pada yang lain. Ketika seseorang terdidik, maka ia punya tugas mendidik yang lain. Mendidik karenya adalah tugas setiap orang terdidik.” – ANIES BASWEDAN

 

REFERENSI :

Suaramerdeka.com/v1/indeks.php/read/news/2010/08/19/62835

Andichairilfurqan.wordpress.com/tag/daerah-tetinggal

Indonesiamengajar.org

http://www.youtube.com/watch?v=w5CRs6m_vAY&feature=player_embedded


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s